Para penanggung jawab program alias programmer kesehatan jiwa wilayah kerja Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas di Kota Kediri beradu keunggulan program kerja dalam Lomba Kreasi dan Inovasi Program Kesehatan Jiwa yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri, Rabu (31/10/2018) pagi. (Foto: A Rudy Hertanto)
Bertempat di ruang pertemuan Dinkes, masing-masing tim programmer kesehatan jiwa dari 9 Puskesmas diberikan waktu untuk secara langsung memaparkan sekaligus menjelaskan detail strategi dalam pelaksanaan program kerjanya dihadapan Tim Juri dan sekitar 50 audiens dari berbagai pihak tenaga di bidang kesehatan.
Ketentuan program yang dilombakan adalah program kesehatan jiwa yang sudah dijalankan atau yang masih dalam bentuk ide dan gagasan, ada 3 tema diantaranya Upaya Preventif dan Promotif Kesehatan Jiwa Kelompok Sehat, Upaya Preventif Kesehatan Jiwa untuk Kelompok Resiko, Upaya Kuratif dan Rehabilitatif untuk Kelompok Gangguan Jiwa. Penjurian atau penilaian meliputi, proposal program, penilaian lapangan dan presentasi program. Pemenangnya mendapatkan tropy dan uang pembinaan. Hasil lomba, Juara 1 diraih Puskesmas Campurejo, Juara 2 Puskesmas Ngletih, Juara 3 Puskesmas Balowerti.
Dikatakan Plt Sekretaris Dinkes Kota Kediri, Dr. H. Rizal Amin saat membuka resmi acara, selain untuk memacu kinerja kegiatan ini merupakan aktualisasi kinerja pemegang program yang berkolaborasi dengan kepala puskesmas, agar program dapat dikelola dengan lebih baik, outputnya tetap ke masyarakat, ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang sembuh atau yang dalam tindak lanjut perawatan dengan obat, bisa diterima kembali di masyarakat.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa ( P2PTM Keswa) Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinkes Kota Kediri, Alfan Sugiyanto, S. KM menambahkan, lomba ini mendorong upaya kesehatan jiwa berbasis masyarakat serta bertujuan memacu kinerja dalam pelaksanaan, pengembangan program pelayanan kesehatan jiwa terkelola dengan baik dari aspek management di tingkat Puskesmas maupun aspek pelayanan kepada masyarakat meliputi preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.
Lebih lanjut Alfan Sugiyanto mengungkapkan, perlombaan ini juga melibatkan pihak Universitas atau Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) di Kediri yang berperan sebagai tim teknis mendampingi programmer kesehatan jiwa, tak hanya untuk ini saja namun berkeseninambungan, penyusunan program kerja hingga pada tahap pelaksanaan, bahkan bersama tim teknis inilah program kerja kesehatan jiwa diurai disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.
Perlu diketahui, masalah kesehatan jiwa di masyarakat semakin kompleks dan semakin meningkat, maka diperlukan pendekatan dan pemecahan masalah dengan persiapan dan langkah-langkah yang tepat. Masalah ini tidak dapat dan tidak mungkin diatasi oleh pihak atau sektor kesehatan saja tetapi membutuhkan suatu kerjasama yang luas secara lintas program dan lintas sektor, termasuk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta.
Data kesehatan jiwa di Dinkes Kota Kediri sampai bulan Juli 2018 ada 266 kasus ODGJ yang dilayani di 9 Puskesmas. Masih ada 1 Posyandu Jiwa yang sudah dilakukan di Puskesmas Campurejo, diharapkan 8 puskesmas lain juga menyusul dengan posyandu jiwanya. Data tenaga kesehatan yang telah mengikuti diklat Community Mental Health Nurse (CMHN) sejumlah 20 orang, dengan telah terlatihnya perawat di masing-masing puskesmas diharap dapat meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat. (A Rudy Hertanto)
