Search

Cegah Pernikahan Dini, Nurhadi NasDem Ajak Remaja di Kediri Turunkan Angka Stunting

Cegah Pernikahan Dini, Nurhadi NasDem Ajak Remaja di Kediri Turunkan Angka Stunting

Pentingnya mencegah bersama-sama, bergotong-royong menurunkan angka stunting kembali dilakukan Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Nurhadi (kanan, batik biru) melalui kegiatan Promosi KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting kepada masyarakat di Kediri, Sabtu (6/8/2022). Foto : A Rudy Hertanto

Kali ini, kegiatan bekerjasama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) digelar di Balai Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri dihadiri perempuan berusia remaja hingga yang telah berkeluarga dari berbagai wilayah di Kabupaten Kediri.

Nurhadi mengungkapkan, KIE tersebut mengusung tema peran remaja, dalam rangka ikut mendorong, mendukung program pemerintah mengurangi, mencegah angka stunting.

“Kabupaten Kediri, Alhamdulillah dibanding kabupaten lain ketika saya keliling di dapil (daerah pemilihan) 6 ini, cukup bagus tetapi kita jangan sampai terlena angka 14% yang di Kediri ini saya kira harus ditekan sampai menjadi zero stunting,” katanya.

“Nah peran remaja itu sangat penting, utamanya dalam rangka kita mencegah terjadinya pernikahan dini, karena pernikahan dini yang ada bahkan mungkin terjadi karena kecelakaan yang akhirnya hamil duluan, itu menjadi potensi tumbuhnya angka stunting baru ya,” sambungnya.

Nurhadi menuturkan, “Karena bagaimana pun usia yang belum layak untuk menikah, organ reproduksi dari ibu yang melahirkan itu rawan, rawan melahirkan bayi untuk potensi stunting.”

Lebih lanjut Nurhadi mengatakan, “Kalau secara nasional kan Pak Jokowi 14% ya, itu sudah dicapai oleh Kabupaten Kediri, walaupun secara rata-rata Jawa Timur masih di atas 20%.”

“Kelihatannya ini angka stunting ini kelihatannya sepele, tetapi kalau diabaikan sangat bahaya. Kenapa? Mereduksi, mereduksi cita-cita kita menuju Indonesia emas tahun 2045 menjadi negara yang besar maju dan sejahtera,” urainya.

Bicara mengenai usia menikah ideal, menurut Nurhadi, aturan berlaku mensyaratkan usia menikah baik perempuan atau laki-laki yakni 19 tahun, namun saat ini strata pendidikan remaja mulai naik sehingga banyak yang lebih mengutamakan meneruskan perguruan tinggi, lulus kemudian menikah.

Menyelesaikan pendidikan sebelum menikah itu juga penting (untuk S1), mungkin S2 setelah menikah baru bisa direncanakan, juga untuk mempersiapkan ekonomi.

“Jadi kalau perguruan tinggi selesai saya kira umur 22-23 kemudian sudah dapat pekerjaan ya, saya kira umur 19 sampai 23 itu usia-usia produktif dan pas untuk menikah,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator ADPIN (Advokasi, Pergerakan dan Informasi), Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sofia Hanik selaku narasumber dalam paparanya, beberapa pointnya menjelaskan, stunting disebabkan kekurangan gizi yang kronis dan penyakit berulang sehingga tumbuh kembang anak tak sesuai kelompok umurnya (2 sampai 5 tahun).

Maka penting untuk memperhatikan asupan gizi dan kesehatan (ibu dan anak) baik sebelum kehamilan maupun sesudahnya, sebagai contohnya Sofia menyebutkan, ibu hamil kerap merasa mual dan tak mau makan (mungkin karena ada sugesti), seharusnya tetap makan dengan cara dicari makanan atau vitamin agar tak mual.

Upaya pencegahan stunting sebelum menikah, calon pasangan suami istri wajib melakukan pemeriksaan kesehatan, jangan merokok sekitar 3 bulan dan atau dimasa awal pernikahan, sebab rokok berpengaruh terhadap kesehatan atau kualitas sel sperma. (A Rudy Hertanto)

INDEX