Selain laporan hasil pencapaian, juga dilakukan penyerahan sertifikat juara lomba bebas jentik kepada Juara 1 diraih Desa Mojoayu, Juara 2 Desa Kayen Lor dan Juara 3 Desa Sukoharjo. Juara Harapan 1 Desa Tegowangi, Harapan 2 Desa Langenharjo dan Harapan 3 Desa Payaman. (Foto : Pratikto Rendra Putranto)
Menjelang akhir tahun, Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Puhjarak Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri menggelar pertemuan lintas sektor di wilayah setempat, membahas pencapaian kinerja kurun waktu berjalan serta perencanaan untuk tahun mendatang, Jumat (7/12/2018).
Dalam forum koordinasi bidang kesehatan yang diadakan di kantor Kecamatan Plemahan dan dihadiri berbagai pihak terkait diantaranya, kepolisian, PKK serta kepala desa (kades) se Kecamatan Plemahan itu, Dr. Dewi Retno, Kepala UPTD Puskesmas Puhjarak menyampaikan, program Indonesia sehat yang dimulai tahun 2016 lalu dengan mengacu pada Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) ditindak lanjuti dengan melakukan pendataan dari rumah ke rumah.
Ada 12 indikator yang di data antara lain, keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB) persalinan di fasilitas kesehatan, bayi mendapat imunisasi dasar lengkap, ASI exsklusif, balita di pantau perkembangannya, penderita tipi paru berobat sesuai standart, penderita hipertensi berobat teratur, penderita dengan gangguan jiwa diobati secara standart, tidak ada yang merokok di dalam rumah, menjadi anggota Jaminan kesehatan nasional (JKM), mempunyai akses air bersih dan mempunyai jamban keluarga.
Kemudian mengenai perkembangan Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) di Kecamatan Plemahan di tahun 2018 ini sudah terbentuk sebanyak 15 Posbindu dari 17 desa. Dua desa yang belum ada Posbindu yaitu Desa Sukoharjo dan Desa Wonokerto. Untuk 2 desa yang belum ada Posbindunya Dr. Dewi Retno berharap tahun depan semua desa sudah bisa melaksanakan Posbindu.
Lebih lanjut Dewi mengungkapkan, untuk masalah kesehatan yang paling sering adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Desa yang rawan DBD antara lain Desa Plemahan, Mojokerep dan Wonokerto. Dari ke 3 desa ini hampir tiap tahun ada pasien DBD.
Penanganan permasalahan ini, pihaknya berkoordinasi dengan kades setempat melakukan tindakan pencegahan dan antisipasi dini melalui gerakan Pembatasan Sarang Nyamuk (PSM) serentak.
Pengecekan berkala juga dilakukan di rumah – rumah warga untuk memantau pergerakan dan pemberantasan jentik nyamuk DBD di kamar mandi maupun sejumlah penampungan air bersih.
Dewi berharap dengan perkembangan penanganan dan pelayanan kesehatan yang selama ini telah berjalan, masyarakat bisa mandiri dan bisa mengetahui tentang penyakit dan sudah tau bagaimana cara berobat yang benar. (Pratikto Rendra Putranto)
