Pembahasan identitas atau ikon kota oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Kota Kediri bersama dengan tim dari Universitas Brawijaya Malang dan sejumlah peneliti Kota Kediri terus berjalan, nantinya hasil dari pembahasan itu bakal dipasang dibeberapa titik lokasi di Kota Kediri. (Foto : Duchang Prakasa)
Diketahui, sudah ada tujuh ikon atau identitas untuk Kota Kediri yakni berbentuk patung yang memiliki unsure terkait cerita Panji dan akan diajukan serta telah melewati sejumlah kajian, diantaranya Patung Raden Panji Asmorobangun, Patung sosok Patih Tamengdita, Patung Yuyu Kangkang, Patung tiga perempuan cantik, Patung Klenting Kuning dan Yuyu Kangkang, Patung Klenting Kuning sendirian, dan Patung Panji Asmorobangun bersama Dewi Sekartaji.
Rencananya, sejumlah patung tersebut akan dibangun di sejumlah lokasi di Kota Kediri. Kepala Disbudpar Kota Kediri, Nur Muhyar mengatakan, dengan menggelar seminar bersama para peneliti dan tim antropologi Universitas Brawijaya diharapkan dapat menentukan ikon Kota Kediri. “Kita harap setelah menentukan ikon ini ke depan Kota Kediri semakin dikenal oleh wisatawan yang berkunjung ke Kota Kediri,” ujarnya saat membuka seminar hasil penelitian identitas Kota Kediri di Hotel Lotus, Rabu (4/10/2017).
Lebih lanjut, seperti diungkapkan Nur Muhyar, selama ini Kota Kediri sudah memiliki identitas non kebendaan yakni “Harmoni Kediri The Service City”. Brand tersebut kemudian Disbudpar Kota Kediri menindaklanjuti dengan identitas bersifat kebendaan. “Seminar ini nanti akan dipaparkan dengan DPRD Kota Kediri dan para peneliti serta budayawan Kota Kediri untuk menentukan ikon. Kita butuh masukan dan ini bisa disetujui bisa tidak,” imbuhnya.
Berdasarkan sejumlah fakta-fakta sejarah Kota Kediri, identitas tersebut memakai dasar cerita Panji Asmorobangun. Hasilnya ada tujuh cerita kejayaan Kediri yang bakal dijadikan ikon. Cerita ini sebagai basic yang akan dikerucutkan berbentuk landmark.
Landmark sendiri merupakan simbol visual dengan penempatan yang menarik perhatian. Landmark menjadi elemen penting dari bentuk kota karena membantu orang mengenali suatu daerah. “Dengan adanya landmark ini kita ingin Kota Kediri bisa seperti kota yang sudah memiliki ikon. Contohnya seperti Patung Lion di Singapura dan Menara Eiffel di Paris,” jelas Nur Muhyar.
Dani Sutopo, Dosen Fisip Universitas Brawijaya Malang mengatakan bahwa penentuan identitas Kota Kediri dari cerita Panji sudah melalui sejumlah kajian. Proses ini sudah bisa dipertanggungjawabkan dengan dinas penelitian. Setelah kami gali telah menemukan cerita Panji.
Pasca ditemukan cerita Panji, Dani menjelaskan, pekerjaan berikutnya adalah terkait bentuk simbolnya. Akhirnya, dari hasil kajian penyimbolan itu pilihannya jatuh pada patung. Pasalnya, patung ini dapat dilihat dari segala sisi. “Kita pilih patung karena bisa dibaca dengan cerita-cerita yang mengisahkan Panji,” tandasnya.
Nantinya patung-patung yang akan dijadikan landmark atau ikon Kota Kediri ini dan tersebar di sejumlah sudut kota, diharapkan bisa menggaet pengunjung untuk betah berada di Kota Kediri. “Ada tujuh patung yang tersebar, harapannya jika pengunjung ingin mengetahui cerita Panji maka harus berkeliling Kota Kediri. Sehingga jika pengunjung semakin lama berada di Kota Kediri diharapkan secara otomatis dapat meningkatkan ekonomi kota,” pungkasnya. (Duchang Prakasa) (A Rudy Hertanto)
