Search

Tumpang Sari Sektor Pertanian dan Perikanan Program Mina Padi di Desa Putih Gampengrejo Kediri

Tumpang Sari Sektor Pertanian dan Perikanan Program Mina Padi di Desa Putih Gampengrejo Kediri

Moh. Basori Kepala Desa Putih Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri saat menunjukkan lahan yang menerapkan program Mina Padi di wilayah setempat, Kamis (24/9/2020). Foto : A Rudy Hertanto

Mulanya tanah bengkok berupa lahan pertanian di Desa Putih Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri dianggap kurang produktif untuk pertanian.

Sebab kondisi tanah yang ada sebagian ketinggiannya lebih rendah dari lingkungan di sekitarnya sehingga ketika musim penghujan tiba, pasokan air cukup melimpah seringkali menggenangi area persawahan.

Hal tersebut membuat tanaman pertanian berkembang kurang bagus dan berimbas tak maksimalnya hasil panen, demikian disampaikan Moh. Basori Kepala Desa Putih Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri.

Berupaya agar potensi sektor pertanian di wilayahnya tak merosot, Basori kemudian berinisiatif untuk memfungsikan persawahan sebagai tempat budidaya perikanan air tawar berpadu dengan pertanian melalui program Mina Padi menggunakan sistem tumpang sari antara padi dan ikan .

“Setelah musim penghujan itu ada mulai musim tanam padi, lha pada waktu itulah kita manfaatkan lahan itu untuk menanam padi dan sekaligus mulai menabur mulai membudidaya ikan,” ungkap Basori, Kamis (24/9/2020).

Secara teknis memang ada sedikit perbedaan keadaan sawah padi pada umumnya dengan Mina Padi, hal itu tampak dari posisi tanam padi berluasan tertentu yang berada di tengah dan di kelilingi air berisi ikan budidaya.

“Selanjutnya setelah panen padi, ikannya sudah mulai berkembang dan sudah persiapan musim hujan, pada musim hujan itu kita pembesaran ikan yang ada di sawah,” urai Basori.

“Dalam jangka enam sampai tujuh bulan kita sudah bisa memanen ikan-ikan dan seterusnya itu nanti juga pada waktu setelah panen ikan otomatis itu setelah bulan musim penghujan juga kita mulai lagi tanam padi sama pembibitan ikan,” sambungnya.

Basori menjelaskan, sekitar bulan April sudah mulai panen ikan dan setelah April mulai pembibitan ikan lagi dan sekaligus menanam padi.

“Dengan sistem seperti itu akhirnya yang biasanya di lahan sawah hanya bisa panen satu kali dalam satu tahun padi dengan program Mina Padi itu nanti otomatis juga panen dua kali yaitu panen padi satu kali panen ikan satu kali,” paparnya.

Menurut Basori, metode Mina Padi mempunyai kelebihan, selain bagusnya hasil panen dan potensi perikanan yang besar juga keringanan biaya untuk pengelolaan padi.

“Karena lahan disitu ada ikannya otomatis banyak zat-zat yang pertumbuhan di padi itu sangat bagus, dengan adanya kotoran ikan itu sangat bagus dan sekaligus ketika ada Mina Padi itu hama-hama yang ada di padi sangat mudah dihilangkan oleh ikan tersebut,” tuturnya.

Basori mengatakan, saat ini luas lahan penerapan program Mina Padi mencapai sekitar 2 hektar yakni di tanah bengkok kepala desa, tahun ini merupakan tahun ketiga Mina Padi berjalan sedangkan jenis ikan budidayanya yaitu nila, tombro dan bawal.

Melihat keberhasilan dan peningkatan penghasilan di sawah dari program Mina Padi, dalam beberapa waktu ke depan Basori mengaku berencana akan melakukan pengembangan termasuk menjadikannya sebagai wisata edukasi Mina Padi bagi masyarakat umum. (A Rudy Hertanto)

INDEX

Leave a Comment