Search

Pemberdayaan Warga, Budidaya Bonsai Adventure Desa Grogol Kediri

Pemberdayaan Warga, Budidaya Bonsai Adventure Desa Grogol Kediri

Sejumlah pemuda warga Desa Grogol Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri sedang mengikuti pelatihan budidaya tanaman bonsai di rumah Suparyono (kedua dari kiri) Kepala Desa (Kades) Grogol di Perumahan Tanjung Baru di Desa Grogol, Selasa (15/9/2020) malam. Foto : A Rudy Hertanto

Seperti disampaikan Suparyono, pelatihan bersama ini sengaja dilakukan untuk mengarahkan aktifitas pemuda setempat supaya lebih positif dan produktif khususnya dalam menekuni bonsai.

Sebelum seperti sekarang, permulaan dimulai ketika ada kalangan pemuda warga desanya yang mengisi waktu luang dengan berburu dongkelan bahan bonsai tak terpakai di bongkaran sekitar lahan lokasi pembangunan Bandara Kediri.

Rata-rata bahan yang ditemukan yakni dongkelan serut, pule, mentaos termasuk waru, karena memiliki nilai seni dan manfaat ekonomi, seiring berjalannya waktu banyak pemuda dan warga lainnya yang suka dan ikut-ikutan.

Melihat kondisi itu, Suparyono kemudian berusaha memfasilitasi dan mengajak mereka bersama-sama untuk mendalami pengembangan bonsai agar dapat lebih berdaya, hingga akhirnya tergelar pelatihan serta terbentuk perkumpulan yang kemudian diberi nama “Bonsai Adventure Desa Grogol”.

Pelatihan malam ini adalah kali ketiga, biasanya tiap awal bulan di hari Selasa (malam Rabu) digelar di rumah Kades, pekan berikutnya forum pertemuan berlanjut di rumah anggota, kata Suparyono yang juga sebagai Pembina Bonsai Adventure Desa Grogol.

Materi pelatihan diberikan oleh Dwi Bachtiar Agung Jatmiko PBBI Nganjuk dan Romadhon (akrab disapa Mbah Don) PBBI Kediri.

“Kita undang PPBI (Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia), supaya hobi mereka ini lebih terarah dan terkonsep, artinya biar mereka tau mana bonsai yang bagus yang bisa dijual dengan harga mahal, mana yang tidak,” urainya.

Suparyono menjelaskan, bonsai-bonsai yang ada di anggota Bonsai Adventure Desa Grogol sebenarnya masih bakalan tapi ada beberapa penggemar yang sudah lama, akhirnya diarahkan ikut kontes.

“Kontes bonsai ini kemarin ikut di Ngawi ya dapat predikat baik juga, nanti ada di Probolinggo dan keliling, PBBI membantu kita,” lanjutnya.

Menurut Suparyono, berbicara nilai ekonomi bonsai bakalan yang ada di desa setempat sekarang berkisar di harga antara 200-300 ribu namun kalau yang bagus mampu menyentuh angka jutaan rupiah.

Suparyono menambahkan, seorang penggemar pasti bisa memperkirakan dan tau harga sebuah bonsai, meskipun soal ukuran seringkali tak jadi patokannya, “Karena namanya hobi kalau orang suka ya bisa sampai ratusan juta bahkan bisa katanya milyaran,” jelasnya.

Sementara itu Agung menuturkan, karena ada penghobi baru pembahasan dimulai dari materi dasar bentuk, pengenalan gerak pohon diawali aliran naturalis yaitu karakter alami pohon yang tumbuh di alam tanpa ada perlakuan dari manusia.

Dimana bentuknya berbeda-beda menyesuaikan kondisi habitatnya baik itu di tanah datar, pinggiran sungai maupun tempat tandus.

“Intinya bonsai itu ndak hanya sekedar dari disiplin ilmu seni saja tapi ada dari botani juga ada, mulai dari pengolahan tanah kemudian pemahaman karakter pohon karena setiap pohon ndak sama,” tuturnya.

Perlakuan alami setiap karakter pohon berlaku serupa saat dijadikan tanaman bonsai, “Perlakuan yang kita lakukan ketika kita mengkondisikan suatu pohon di pot itu sebenarnya harus kita kembalikan ke alam,” sambungnya.

Agung mengatakan, pada kesempatan pelatihan ke depan pihaknya akan menekankan untuk lebih mengembangkan dibidang budidaya, kalau bisa jangan sampai menggantungkan di alam karena apapun alibinya jika dikatakan mengambil dari alam otomatis kita merusak alam.

Budidaya mulai mencangkok, stek atau yang lain itu justru yang itu lebih-lebih bisa terprogram geraknya dari awal dan nilai jualnya pun lebih lebih tinggi.

“Karena kita bisa memprogram sesuai dengan gaya-gaya bonsai, lha beda halnya dengan kalau kita hanya berburu di alam,” terangnya, sebab menggantungkan ke alam secara kebetulan, berharap dapat bahan bagus. Tapi faktanya, lebih banyak dapat bahan yang kurang baik.

Langkah budidaya merupakan cara elegan untuk turut berperan menjaga kelestarian alam, “Saat ini pun beberapa teman sudah merespon mulai pembibitan asam Jawa kemudian mulai gemar mencangkok,” ujar Agung.

“Tidak ada 1 potong ranting pun yang itu nanti kita buang sia-sia, jadi ketika sebelum kita memotong ranting yang tidak akan kita pakai kita cangkok dulu. Selain itu juga kita arahkan untuk menambah nilai pendapatan dari budidaya bonsai, sebenarnya cukup menjanjikan ketika kita arahkan sesuai dengan keilmuan yang memang ada,” ungkapnya.

Pendampingan berikutnya selain pada forum pertemuan, “Dalam keseharian ketika sore atau seminggu 2-3 kali kita praktek sama-sama saling mengunjungi di satu tempat rumah teman yang budidaya kita bergantian, dari situ kita pendalaman materi dan praktek langsung, nah disini kita penambahan wawasan secara berurutan,” pungkas Agung. (A Rudy Hertanto)

INDEX

Leave a Comment