Search

Puncak Hari Jadi Kabupaten Kediri 1215, Nyawiji Hanyengkuyung Kadiri Hanggayuh Mukti, Pagelaran Tari Massal (adv)

➤ Informasi Pengunjung : 352
Puncak Hari Jadi Kabupaten Kediri 1215, Nyawiji Hanyengkuyung Kadiri Hanggayuh Mukti, Pagelaran Tari Massal (adv)

Puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri ke 1215 Tahun 2019 ditandai dengan pelaksanaan upacara oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri yang digelar di halaman belakang Kantor Pemkab Kediri, Senin (25/3/2019). (Foto : Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kediri/lks,rx,tj,wk)

Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno bertindak sebagai Inspektur Upacara, dihadiri Wakil Bupati Kediri, jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri, Mantan Bupati, Danrem 082/CPYJ, Ketua DPRD Kabupaten Kediri, Kepala Imigrasi Kediri, Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Kepala OPD, ASN Pemkab Kediri, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Turut hadir, para penyandang disabilitas.

“Dalam suasana penuh kebahagiaan dan keberkahan ini, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya, pada hari ini kita dapat bersama-sama memperingati hari jadi Kabupaten Kediri ke 1215,” ungkap dr. Hj. Haryanti Sutrisno mengawali sambutannya.

Menurut Bupati Kediri, peringatan hari jadi pada hakikatnya adalah ungkapan rasa syukur sekaligus momentum bagi semua untuk mengevaluasi, memperbaiki diri serta memantapkan tekad kebersamaan dalam menyelenggarakan pemerintahan dan mensukseskan pembangunan di berbagai bidang.

“Untuk itu pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri mempunyai tema Nyawiji Hanyengkuyung Kadiri, Hanggayuh Mukti yang berarti menyatukan Hati Jiwa Cipta Rasa dan Karsa dari berbagai elemen untuk menggapai cita-cita Kediri Mulya Sejahtera. Kita jadikan momentum ini sebagai penyemangat untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran Kabupaten Kediri,” terangnya.

Usai upacara, Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno beserta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan tamu undangan menuju ke kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) menyaksikan Tari Massal yang dibawakan ribuan penari berjumlah 1215 penari berasal dari gabungan pelajar se Kabupaten Kediri yang dimulai pukul 09.00 pagi.

Ada empat jenis tarian yang dibawakan yakni Tari Topeng Panji Gagahan Alus, Panji Laras, Sarinjingku, dan Sang Bagawanta Bhari. Bentuk komposisi seni gerak dan teaterikal yang ditampilkan itu memiliki kisah dan sarat makna.

Tarian Topeng Panji Gagahan Alus menceritakan tentang sang Panji sebagai sosok satria yang diidolakan oleh banyak orang, yaitu tokoh yang meneladani dalam hal prinsip kehidupan pola sederhana, peduli dengan sesama, arif serta bijaksana, dalam menghadapi tempaan lelakon urip yang dilalui dengan penuh kesabaran, dan akhirnya membuahkan kebahagiaan.

Tarian Panji Laras menceritakan tentang rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian Panji Laras kepada ayam jago kesayangannya, yang merupakan wahyu dari Sang Khalik dengan perantara elang. Segala hal yang dilakukan Panji terhadap jagonya ternyata mampu menumbuhkan rasa cinta, kesetiaan, dan kegigihan sang jago dalam membela dan meraih cita-cita, harapan-harapan sang Panji karena telah dirawat dengan baik penuh kasih sayang. Sampai pada akhirnya bertemu dengan sang ayahandanya Sang Raja.

Tarian Sarinjingku berasal dari kata Rinjing, yaitu peralatan dari bambu yang multi guna, merupakan hasil karya tangan terampil di masa lampau dan masih ada hingga saat ini. Agar tetap mendapat tempat di masyarakat, Rinjing kita perjuangkan melalui media seni tari, serta bertujuan menanamkan rasa cinta dan menghargai produk anti polusi kepada anak generasi penerus.

Tarian yang terakhir adalah Sang Bagawanta Bhari menceritakan legenda asal usul Sungai Harinjing. Di masa kekeringan kemarau panjang, masyarakat resah karena tidak ada air. Kedatangan sang Bagawanta Bhari mengajak mereka bersama-sama berdoa berserah semua nasib, sumende ing ngarsaning gusti yang akhirnya mendapat petunjuk. Dengan sehelai daun dan didukung doa bersama oleh masyarakat, Sang Bagawanta Bhari bisa membuat sungai.

Saat riang gembira sedang menikmati melimpahnya air, para wanita yang sedang beraktifitas di sungai, rinjing bawaannya hanyut. Maka oleh Sang Bagawanta sungai tersebut dinamakan sungai Harinjing. Kerukunan sayuk saiyeg-nya masyarakat sekitar Sugai Harinjing terdengar oleh sang maha raja Rakai Dyah Tulodong. Sehingga beliau turun ke desa memberikan hadiah sebagai wilayah bumi perdikan yang tertuang dalam Prasasti Harinjing.

Antusias tinggi, sejak pagi masyarakat memadati SLG menyaksikan Tari Massal, acara peringatan hari jadi Kabupaten Kediri selalu menarik perhatian masyarakat. Dengan adanya tari masal diharapkan dapat memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat dan juga bisa menambah wawasan tentang kisah-kisah sejarah yang ada di Kabupaten Kediri. (Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kediri/lks,rx,tj,wk) (Advertorial) (A Rudy Hertanto)

INDEX

Leave a Comment