Search

Kediri Kota Jangan Lengah, Ancaman DBD dan Chikungunya di Masa Pandemi Corona

Kediri Kota Jangan Lengah, Ancaman DBD dan Chikungunya di Masa Pandemi Corona

Petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri melakukan fogging di lingkungan permukiman penduduk di wilayah Kelurahan Banaran Kecamatan Pesantren untuk mengantisipasi serangan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Chikungunya dimasa pandemi virus corona alias Covid-19, Jumat (8/1/2021). Foto – foto : A Rudy Hertanto

Fogging dilakukan merespon adanya laporan dari rumah sakit dan kelurahan atas penanggulangan penyakit DBD dan Chikungunya, mengingat di Kota Kediri dalam Januari 2021 berjalan ini telah didapati 1 kasus DBD dan 5 kasus Chikungunya.

Alfan Sugiyanto, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri mengatakan, dibandingkan dengan DBD, pada tahun 2020 kasusnya lebih banyak Chikungunya yakni mencapai sekitar 406 kasus, meski 2019 zero kasus Chikungunya.

“Nah untuk DBD sendiri sebenarnya sudah terjadi penurunan sampai 30 persen, kalau di 2019 itu totalnya ada 223 kasus DBD dengan 3 kematian, sedangkan di tahun 2020 hanya 160 kasus dengan hanya 1 kematian,” katanya.

Alfan menerangkan, melihat trendnya, DBD sendiri trendnya itu landai, selama tahun 2020 dibanding dengan 2019 jauh beda, kalau dibandingkan pada bulan Januari di tahun yang berbeda, Januari 2019 kasusnya 69, tapi di 2020 kasusnya cuma 12 dan itu pun landai sampai akhir.

Pencegahan DBD dilakukan melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) tapi disisi lain Chikungunya yang banyak.

“Ada beberapa analisis yang mungkin bisa disampaikan, penyebab dari DBD sama Chikungunya, nyamuknya kan sebenarnya sama, Aedes Aegypti sama Aedes Albupictus yang dua-duanya bisa menyebabkan DBD juga bisa menyebabkan Chikungunya,” ujarnya.

“Cuma karakteristiknya ini yang berbeda, kalau Albupictus itu lebih banyak di kebun-kebunan, Aedes Aegepty lebih banyak di rumah, lha ini mungkin ini ada kaitanya dengan adanya pandemi covid ini, warga banyak yang WFH (Work From Home), di rumah sehingga banyak digigit nyamuk,” lanjut Alfan.

Preventifnya, pencegahannya tidak ada yang lain kecuali PSN 3M yakni Pertama, Menguras atau membersihkan secara rutin tempat penampungan air bersih.

Kedua, Menutup rapat berbagai tempat penampungan air dan Ketiga, Mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk seperti kaleng bekas dan sebagainya.

Alfan mengungkapkan, “Kenapa harus ada fogging? Fogging itu sebenarnya simalakama buat kami, satu sisi fogging itu nanti berdampak kurang baik terhadap lingkungan karena isinya adalah insektisida, yang kedua dampak yang ditimbulkan, nyamuk itu nanti bisa resisten kalau foggingnya tidak tepat.”

“Mohon maaf, misal disitu tidak ada kasus DBD maupun Chikungunya tapi warga ngotot untuk minta dilakukan fogging, yang terjadi adalah kita bukan membunuh nyamuk penyebab kasus, tetapi malah memberikan resistensi nyamuk-nyamuk sehat sebenarnya yang tidak menimbulkan kasus,” sambungnya.

“Sehingga ke depan dampaknya apa? Nyamuk-nyamuk ini akan lebih kuat, lebih kebal hingga di fogging nanti tidak mempunyai dampak atau tidak bisa mati nyamuknya,” tutur Alfan.

Kendati demikian, Alfan menyebutkan, penanggulangan fokus itu tetap melakukan fogging secara tepat dan ditunjang dengan penyebaran bubuk abate maupun melalui gerakan 3M.

“Bagi kami dimusim pandemi covid ini sangat berat sekali, kalau dulu kita mengandalkan kader-kader jumantik (juru pemantau jentik) yang setiap bulannya bisa turun ke lapangan, dengan kondisi pandemi ini kan sangat dibatasi interaksinya, ini mungkin juga salah satu kendala di dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk,” urainya.

Alfan menambahkan, disamping antisipasi ketat dan kewaspadaan yang tinggi terhadap ancaman Covid-19 dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan 3M yaitu Memakai masker, Menjaga jarak dan Mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir.

Diharapkan masyarakat dan berbagai pihak jangan sampai lengah terhadap ancaman penyakit lain, dalam hal ini DBD dan Chikungunya dengan pencegahan yang juga 3M serta menjaga kebersihan lingkungan dan hunian. (A Rudy Hertanto)


 

 

 

 

 

INDEX

Leave a Comment