Search

Ketua Presidium PUI Kediri Raya : Bahaya Laten PKI Bukan Main-main

Ketua Presidium PUI Kediri Raya : Bahaya Laten PKI Bukan Main-main

Sarasehan kebangsaan dan nonton bareng film pengkhianatan G30S/PKI (Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia) serta pemutaran video tausyiah Gus Maksum terhadap bahaya bangkitnya PKI digelar Pergerakan Umat Islam (PUI) Kediri Raya di rumah Ustadz H. Mubarid di wilayah Kelurahan Pesantren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Sabtu (2/10/2021) malam. Foto : A Rudy Hertanto

Ketua Presidium PUI Kediri Raya, Rahmat Mahmudi mengungkapkan, “Kegiatan ini kita lakukan dengan tujuan pertama untuk mengingat kembali peristiwa kebiadaban dari PKI khususnya yang dilakukan pada tahun 1965 (30 September 1965) itu, sekaligus memberikan warning kepada kita bersama bahwa bahaya laten PKI itu bukan main-main.”

“Karena kita tahu bersama akhir-akhir ini ada benturan opini di masyarakat, satu sisi kita meyakini dan sebagian kelompok meyakini bahwa PKI itu meskipun sudah dibubarkan, ideologinya tetap ada bahkan pengagumnya, penganutnya itu masih ada meskipun dalam bentuk yang berbeda, tidak lagi dalam format PKI seperti yang dulu,” sambungnya.

Rahmat menjelaskan, “Kita perlu mengingatkan kepada siapapun terutama sebetulnya generasi muda, jangan sampai melupakan kejahatan kebiadaban PKI itu, maka kita berupaya dalam setiap momentum seperti ini kita harus mengingat kembali dengan cara seperti ini.”

Seperti diterangkan Rahmat, pada sarasehan kebangsaan ini menghadirkan dua narasumber yang sangat berkompeten yaitu Gus Aminuddin Faisol asli Kediri (putra Kiai Faisol), aktif di dalam pergerakan GP Ansor, pernah menjadi pengurus wilayah di Jawa Timur juga di pusat.

“Sampai dengan sekarang aktif di dalam tulisan-tulisan jurnalistik dan sempat ini sedang membuat buku tentang PKI di Indonesia dan benturan-benturan yang terjadi di masyarakat,” katanya.

Narasumber kedua yakni Abah Abud, “Beliau ini adalah pelaku sejarah khususnya di tingkat lokal Kediri, beliau pada waktu itu ditugasi oleh Kiai Halim (Kuwak) kemudian juga dibantu dari Lirboyo, dari Plemahan waktu itu berhadapan langsung dengan PKI yang berpusat di Burengan,” urainya, dulu kantor PKI itu ada di sekitar perempatan Burengan.

Menurut Rahmat, dulu pada waktu itu di sekitar perempatan Burengan terjadi bentrokan luar biasa antara pemuda-pemuda Islam dengan PKI.

“Lha itu terjadi benturan besar di sini, itu menjadi satu catatan dari sekian banyak catatan bentrokan antara Ansor, umat Islam dengan PKI di Kediri, kita tahu bahwa bentrokan-bentrokan itu terjadi bukan hanya di Kediri, dimulai dari Banyuwangi, Jember, Malang, Kediri, Blitar kemudian juga di Mojokerto luar biasa memang bentrokan seperti itu,” tuturnya.

“Nah sejarah ini ndak boleh, ndak boleh ditutup-tutupi kita harus terus mengenang itu betapa bahayanya PKI ini, cuma kita harus tahu sejarah itu dengan benar jangan dibalikkan fakta, sekarang kan ada upaya-upaya dari kelompok PKI itu justru mengatakan mereka itu korban, nggak bisa mengatakan seperti itu,” tegas Rahmat.

“Mari kita tetep mewaspadai kemungkinan bangkitnya PKI itu, kita sadar indikasi-indikasi bahwa ideologi itu masih ada, masih ada orang yang berusaha memperjuangkan itu banyak, bahkan ada yang dengan bangganya mengatakan aku bangga menjadi anak PKI, anak PKI masuk parlemen dan sebagainya, jadi dia justru tidak takut mengatakan bahwa dia anak PKI,” lanjutnya.

“Situasi ini menunjukkan bahwa perkembangan ke depan ini kita betul harus waspada. Kenapa? Agar tidak terjadi lagi konflik horizontal,” imbuh Rahmat. (A Rudy Hertanto)

INDEX

Leave a Comment